Minggu, 09 Juli 2017

REVIEW BUKU IDENTITAS TIONGHOA pasca- Soeharto- Budaya, Politik dan Media-

RESENSI BUKU
IDENTITAS TIONGHOA
Pasca-Suharto -Budaya, Politik dan Media-



BAB 1 BERBAGAI PENDEKATAN UNTUK MEWADAHI KETIONGHOAAN

     Indonesia adalah sebuah bangsa dengan beragam etnis dan budaya. Cita-cita untuk menciptakan sebuah negara-bangsa yang bersatu tampak dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika , yang di patrikan pada tahun 1945. Jatuhnya Suharto pada tahun 1998 membuat ideology orde baru dan kebijakan asimilasi berakhir, sekaligus membuka ruang baru bagi kebangkitan kembali politik identitas di seluruh Indonesia. Pada saat yang sama, wacana multi kulturalisme pun muncul yang kemudian diperbincangkan dan diperdebatkan dikalangan para aktivis social dan akademisi.

ASIMILASIONALISME DIBAWAH ORDE BARU SUHARTO
     Antara 1966 dan 1998, presiden Suharto menciptakan budaya nasional baru dengan menegaskan kembali pentingnya ideology pancasila. Ideology nasional ini di promosikan sebagai satu-satunya azas bagi semua “organisasi kemasyarakatan” (ormas) dan “organisasi social- politik” (orsospol) dibawah rezim orde baru (morfit 1986 : 42). Suharto menghendaki pengalaman pancasila ini bias meresap “ke setiap sendi kehidupan bangsa dan negara kita “ (Elson 2001 : 241). Bagi rezim orde baru, pengamalan ideology pancasila merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan tujuan pokok stabilitas dan keamanan politik yang di perlukan untuk pembangunan nasional; jadi, “menyeleweng dari pancasila berarti memperlemah usaha pembangunan, stabilitas nasional dan kepribadian rakyat Indonesia “ , (Morfit 1986: 43).
     Akan tetapi, ideology nasional orde baru tidak pernah secara efektif berupaya mewadahi kehadiran etnis tionghoa. Dalam proses mendefinisikan identitas nasional atas dasar keaslian atau kepribumian , orang tionghoa diliankan aatau dianggap sebagai orang luar non pribumi, tetapi ironisnya, ketionghoaan secara luas juga dianggap sebagai problem “domestic”, atau disebut masalah tionghoa, yang mengganggu solidaritas bangsa. Melihat posisi dominan etnis tionghoa dalam perekonomian bangsa sebagai suatu masalah, pemerintah orde baru berusaha mengatasinya dengan mengabsahkan program pembauran yang didukung militer. Program ini menentukan penghapusan secara total segala tanda dan penanda ketionghoaan dan mendorong kelompok etnis yang bermasalah ini untuk membaurkan diri ke dalam budaya-budaya daerah yang telah di konstruksikan secara resmi. Budaya-budaya daerah yang di konstruksikan ini merupakan satu-satunya budaya etnis yang sah diindonesia dijaman Suharto .dengan demikian , ketionghoaan senantiasa berada dalam ancaman untuk dihapus.

POLITIK MULTIKULTURALISME
     Multikulturalisme, sebuah kebijakan yang pertama kali diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1960-an, merupakan suatu pergeseran signifikan dimana identitas di konstruksikan dalam konteks modernitas barat. Multikulturalisme menandai ditinggalkannya universalisme barat maupun ideology asimilasi monokultural (agger 1998) kebijakan multicultural mendorong gerakan kembali ke akar dan penguatan identitas etnis. Agger menggambarkan multikulturalisme sebagai “versi posmodernisme amerika yang secara politis paling terlibat” (1998 : 69). Ia mengatakan bahwa multikulturalisme muncul menyertai teori-teori postmodern yang menekankan pemahaman bahwa perbedaan diantara orang per orang lebih penting daripada kesamaan. Tuntutan atas diakuinya hak-hak, budaya, identitas kaum minoritas- apa yang oleh Charles taylor dirujuk sebagai “politics of recorgnition” (politik pengakuan) – berada dalam jantung wacana multikulturalisme (1994). Multikulturalisme berupaya mensubversi homogenisasi cultural dengan mengakui koeksistensi dan representasi berbagai budaya dan kelompok masyarakat yang berbeda dalam sebuah negara- bangsa.
                        Ketetapan hati multikulturalisme untuk memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang tetap dan tak berubah telah membuat kebijakan ini bermasalah. Multikulturalisme yang terlalu menekankan keterikatan cultural memiliki kekurangan untuk menjadi suatu bingkai untuk menyembunyikan rasisme dibalik tabir “perbedaan cultural”. Ironisnya, inilah efek yang hendak dihapuskan oleh kebijakan multikulturalisme itu sendiri. Barangkali masalah riil multikulturalisme terletak pada kecenderungan bahwa ‘’’-isme’ yang ada pada konsep ini mengubah ‘multikulturalisme’ menjadi sebuah doktrin politik” (hall 2000 : 210). Kondisi multukultural hanya bias dihidupi dan digerakan kembali dan ditransformasikan dengan pengakuan atas hibriditas. Kendati demikian, konsep hibriditas tidaklah kebal terhadap penyelewengan politik dan terkadang di (salah) respresentasikan sebagai wacana harmoni multicultural yang sederhana. Ien Ang mengingatkan kita bahwa “hibriditas, yakni suatu kondisi keberantaraan yang riil, tidak dapat diredusir pada perkara sekadar jabat tangan, penyatuan dan perpaduan yang harmonis dan menggembirakan “(2001a : 17).
                        Proses demokratisasi telah mendorong maraknya politik identitas pada masa pasca – Suharto. Pada saat bersamaan, politisasi ini telah menantang bangsa Indonesia untuk mencari pendekatan (-pendekatan) baru guna mengakomodasi kelompok-kelompok etnisnya yang beraneka ragam. Buat bangsa Indonesia pertanyaan penting yang perlu diajukan bukanlah bagaimana “mengatasi” (overcome) atau “menyingkirkan” (get rid) perbedaan, seperti dalam kasus kebijakan asimilasionisnya Orde Baru, tetapi lebih pada bagaimana “hidup dengan” (live with) perbedaan (Ang 2001a: 1994; Papastergiadis 2005: 60). Dalam merumuskan suatu kebijakan multicultural untuk menggantingkan paradigma asimilasonis lama, mutlak bagi para pengambil kebijakan untuk mengakui percampuran silang-budaya, peminjaman dan hibridasi yang terjadi dalam realitas dari hari ke hari sedemikian rupa sehingga perbedaan-perbedaan etnis bias lebih berhasil diakomodasikan di negeri yang beragam ini. *

BAB 2 KONSTRUKSI HISTORIS IDENTITAS MANUSIA

     Etnis Tionghoa di Indonesia telah bersikap fleksibel, tanggap dan kreatif dalam menyesuaikan diri dengan perubahan. Tan Chee Beng menyatakan bahwa identitas etnis dan cultural orang Tionghoa di Asia Tenggara telah dibentuk oleh berbagai pengalaman local di negara tempat mereka tinggal dalam suatu proses yang disebut lokalisasi (2001). Identitas orang Indonesia tionghoa berlapis-lapis sesuai dengan tingkat adaptasi dan akulturasi mereka dengan kondisi-kondisi setempat (lihat M.Li 2003). Manifestasi ketionghoaan yang berlainan dalam periode pemerintahan yang berbeda menunjukan bahwa identitas itu tidak statis,tetapi dinamis dan bias diubah serta didefinisikan kembali.
Peng-‘stereotip’-an adalah metode mengolah informasi dengan cara meredusir citra dan gagasan [yang kompleks] ke dalam bentuk yang sederhana dan bias ditangani (manageable) (loomba 1998:59-60). Tidak ada garis nyata antara “diri” dan “lian” ; stereotip berfungsi sebagai garis imajiner yang menetapkan “mereka” berpisah dari “kami” (gilman 1985).
Gilman berpendapat bahwa stereotip itu merupakan “produk dari sejarah dan suatu budaya yang terus menerus menghidupkannya. Tak ada sesuatu yang acak; tidak ada sesuatu yang terpisah dari konteks sejarah “(1985:20). Identitas tidak pernah tetap dimasa lampau yang esensialis , “identitas itu tunduk pada ‘ permainan’ sejarah, budaya dan kekuasaan yang berlangsung “ ( hall 1993:394).
Pada tahun 1991, siswono, yang waktu itu menjabat menteri negara perumahan rakyat, menerbitkan sebuah risalah yang berisi 9” dosa” etnis tionghoa yang menurutnya telah merusak citra mereka. Kesembilan dosa etnis tionghoa yang ia daftar itu adalah sebagai berikut
1.      Mereka tinggal secara eksklusif di lingkungan mereka sendiri;
2.      Sejumlah perusahaan lebih suka merekrut orang-orang keturunan Tionghoa;
3.  Dalam pemberian gaji, sejumlah perusahaan melakukan tindakan diskriminatif, dengan memberikan gaji lebih kepada pekerja dari etnis Tionghoa;
4.  Ada sejumlah perusahaan yang membeda-bedakan antara etnis Tionghoa dan etnis lain di Indonesia dalam perilaku mereka terhadap klien, dalam relasi bisnis mereka;
5. Di lingkungan tempat tinggal, mereka tidak menunjukkan kesetiakawanan social dan kebersamaan dengan orang-orang dari etnis lain;
6.  Ada di kalangan mereka yang rasa identitas kebangsaannya masih sangat lemah,dan yang memperlakukan Indonesia semata-mata sebagai tempat tinggal dan mencari penghasilan;
7.     Ada yang kehidupan sehari-hari masih berbahasa Tionghoa dan setia dengan tradisi mereka, dan yang bahkan tidak mengenal adat istiadat Indonesia, dan yang tidak berusaha berbahasa Indonesia dengan baik;
8.      Ada yang memandang kewarganegaraan Indonesia mereka sebagai status hukum belaka;
9.      Ada yang merasa lebih hebat terhadap kelompok-kelompok penduduk lainnya.
Tiga dari “dosa-dosa” ini terkait dengan praktik-praktik bisnis para pengusaha Indonesia-Tionghoa. Peran etnis Tionghoa yang begitu mencolok dalam perekonomian Indonesia turut andil dalam pelanggengan stereotip negative ini. Hal ini juga karena alasan bahwa banyak orang Tionghoa yang menjadi sangat kaya dibawah rezim Orde Baru dan tidak sedikit di antaranya yang tampak memamerkan kekayaan mereka dengan gaya hidup yang berlebihan – suatu keadaan yang dianggap sebagai masalah oleh kaum Pribumi bila disandingkan dengan kemiskinan banyak orang Indonesia.

BAB 3 “KEBUDAYAAN” TIONGHOA DAN IDENTITAS DIRI

            Berbagai peristiwa politik mei 1998 yang memaksa Suharto turun dari tampuk kekuasaannya membuat kedudukan etnis tionghoa yang sangat bermasalah dalam hubungannya dengan bangsa Indonesia mencuat ke permukaan satu konsekuensi dari berbagai kerusuhan itu adalah terjadinya apa yang oleh para pakar maupun dimedia umum lazim disebut “kebangkitan kembali identitas tionghoa, yang tercermin dalanm “kemunculan kembali” Pers, budaya , religi dan bahasa mandarin. Untuk menunjukan bahwa mereka telah berjarak dari ideology otoriter orde baru sekaligus memperlihatkan komitmen mereka pada reformasi dan perubahan, para pengambil kebijakan dilingkungan pemerintah pasca orde baru mengadopsi kebijakan multikulturalisme, dan mengamandemen kebijakan-kebijakan tertentu yang diskriminatif terhadap etnis tionghoa.
Bab ini secara kritis telah membahas peran “kebangkitan kembali “ bahasa dan budaya tionghoa pasca-Suharto dalam pembentukan identitas tionghoa ditengah kekuatan-kekuatan hibridisasi dan globalisasi. Bab ini mendokumentasikan peran orang tionghoa itu sendiri dalam menjaga dan memelihara etnisitas mereka selama orde baru, dan mempertanyakan pengertian yang simplistic mengenai “kebangkitan kembali” etnis. Pembahasan mengenai menjamurnya pendidikan bahasa mandarin dan replesentasi popular ketionghoaan dimedia telah menyajikan gambaran yang lebih rumit mengenai fenomena pasca-1998 yang secara naïf sering di lukiskan sebagai “euporia” satu tema umum yang mencuat adalah bahwa kedudukan orang tionghoa masih rentan dan dalam banyak hal tergantung pada kehendak pemerintah Indonesia, mayoritas pribumi , posisi internasional dan kebijakan china.

BAB 4 HETEROGENITAS DAN DINAMIKA INTERNAL POLITIK TIONGHOA

     Jatuhnya rezim orde baru juga menjadi tanda kembalinya kebebasan politik diindonesia, termasuk munculnya civil society. Pencabutan berbagai pembatasan atas partisipasi dan aktivisme politik yang telah berlaku selama 32 tahun membuka keran lahirnya banyak partai politik, kelompok-kelompok aksi, dan organisasi-organisasi non pemerintah (ornop). Banyak etnis tionghoa memamfaatkan kebebasan politik ini untuk mendirikan berbagai organisasi guna memperjuangkan penghapusan undang-undang yang diskriminatif, mempertahankan hak-hak mereka serta mempromosikan solidaritas antar kelompok etnis diindonesia.
     Heterogenitas organisasi dan politik tionghoa di Indonesia yang telah mengalami demokratisasi pasca-1998. Kesinambungan dan keterputusan stabilitas dan perubahan yang tak berkesudahan, serta perubahan dan kepastian sekaligus dalam organisasi-organisasi tionghoa muktahir membuat perempatan atau generalisasi menjadi mustahil apalagi membuat kategorisasi dengan menggunakan dikotomi-dikotomi sederhana seperti totok /peranakan, etnis/non etnis dan cultural/politik. Partisipasi etnis tionghoa pemilu 2004 menunjukan adanya pandangan politik yang sangat beragam dikalangan orang tionghoa. Mengingat adanya kemajemukan itu, konflik dan perdebatan internal bukanlah hal yang mengejutkan satu comtoh adalah peringatan tragedy mei 1998 pada tahun 2004, dimana parti di pandang sebagai wakil tidak sah masyarakat tionghoa dan acara peringatan itu dianggap memalukan oleh banyak orang tionghoa. Perbedaan generasi juga turut mewarnai keragaman organisasi tionghoa. Sadar bahwa kaum muda akan menjadi pemimpin masa depan organisasi-organisasi tersebut, sebagian pemimpin senior tionghoa menerima partisipasi mereka dalam organisasi yang mereka pimpin, tetapi menolak untuk berbagi kekuasaan dengan mereka.

BAB 5 TERBITNYA KEMBALI PERS TIONGHOA

            Sebagai bagian dari Program Asimilasi, penertiban bahan-bahan Tionghoa dan penggunaan bahasa Mandarin di tempat umum dilarang selama masa orde baru. Akibatnya, segala barang cetakan berhuruf china diklasifikasikan sebagai “barang import terlarang”. Pelarangan ini berakhir setelah rezim Soeharto jatuh. Era reformasi pasca-Soeharto ini dirayakan sebagai kebangkitan kembali kebebasan pers dan media di Indonesia yang dramatis; dan banyak penertiban yang sebelumnya dilarang maupun yang baru pun bermunculan semenjak rezim Soeharto jatuh. Pers dan media Tionghoa pun bermunculan semenjak rezim Soeharto jatuh. Pers dan media Tionghoa merupakan bagian dari arus mekarnya kembali kebebasan itu, dan banyak surat kabar harian maupun majalah baru berbahasa China pun bermunculan.
            Secara konvensional, para ahli membagi etnis Tionghoa ke dalam dua kelompok utama, yaitu kaum Totok dan Peranakan. Selama masa colonial hingga awal kemerdekaan, istilah “pers Tionghoa” mengacu pada berbagai penerbitan dalam bahasa Melayu – Tionghoa (yang juga disebut pers perananakan) serta yang terbit dalam bahasa Mandarin. Sebetulnya, pers Tionghoa pertama kali muncul di kepulauan nusantara pada awal 1900-an, yakni 1 dekade sebelum pers berbhasa mandarin terbit. Munculnya pers peranakan diilhami oleh bangkitnya nasionalisme pan-China pada akhir abad ke -19. Pers peranakan mengalami rasa identitas ke tionghoaannya bangkit kembali dan melalui hal inilah orang tionghoa berupaya menemukan kembali akar mereka dengan menuntut dimuatnya “cerita-cerita Tiongkok atau sesuatu tentang Tiongkok dan tentang diri merek sendiri dalam bahasa yang telah mereka akrabi” (Suryadinata 1978b : 131). Surat-surat kabar berbahasa mandarin terbit sebagai bagian dari masyarakat totok berbahasa tionghoa yang sedang tumbuh.

BAB 6 “RAS”, KELAS DAN STEREOTIFIKASI : PERSEPSI PRIBUMI TENTANG KETIONGHOAAN.

            Bab ini telah membahas relevansi dan perlunya analisis persepsi mengenai “ras” dalam kajian tentang hubungan Pribumi dan Tionghoa dalam masyarakat Indonesia mutakhir. Meskipun “ras” tidak popular dalam wacana akademis mengenai etnisitas dan kajian multicultural, daam wacana public di Jakarta. Hal ini sungguh merupakan sesuatu yang mendasar dan mengakar. Bab ini telah menunjukan bahwa penanda-penanda “ras” tertentu mempengaruhi cara orang mempresepsikan, mengonstruksikan dan berinteraksi dengan si-“liyan” yang dirasialisasikan. Dalam proses bagaimana orang pribumi membangun stereotip tentang orang Tionghoa. Orang tionghoa dikontruksikan sebagai bos yang berkuasa dan kaya, yang diperhadapkan dengan orang pribumi sebagai korban tak berdaya dan miskin. Kontruksi ini membakukan orang Tionghoa sebagai pelaku penindasan, sedangkan pribumi sebagai korban yang tak berdaya. Reduksionisme yang simplistic seperti ini mengabaikan dinamika hubungan kekuasaan yang kompleks antara negara, pribumi dan tionghoa. Akibatnya, keragaman di dalam kategori “diri” atas dasar kelas, gender, etnisitas, budaya dan agama, diabaikan; dan kategori ‘diri’ dianggap berbicara dengan suara tunggal. Di lain pihak, perbedaan antara kategori “diri” dan “liyan” dilebih-lebihkan dalam dualism yang tak dapat direkonsiliasikan, sedemikian rupa sehingga “garis imajiner” perbedaan yang diesensialisasikan itu dapat dipertahankan.

BAB 7 MENJAGA ETNISITAS: MENEGOSIASIKAN PEMELIHARAAN SEKAT DAN PENYEBERANGAN BATAS

     Penting diingat bahwa identitas etnis itu relasional. Oxfeld menyatakan bahwa identitas etnis itu “dialogis/refleksif” , karena identitas etnis itu “diciptakan, dipelihara, dan ditegaskan kembali melalui serangkaian oposisi antara kelompok sendiri dan kelompok lain secara terus-menerus “(2003:316).
            Daya identifikasi atas dasar tanda-tanda “rasial” misalnya seperti warna kulit dan penampilan tidak boleh diremehkan begitu saja. Antias dan Yuval Davis mengingatkan bahwa warna kulit dan penampilan bias digunakan sebagai penanda rasis, karena kedua hal itu “dipandang sebagai identifikasi keturunan umat manusia yang terpisah-pisah di dalam warisan yang kekal”(1992:155).







Ditulis, disunting dan dipublikasikan oleh Ari Intan P.S & Larezza D.S



Senin, 12 Juni 2017

KRONOLOGI PEH CUN DI TANGERANG.

Pada tahun 1900 Kapitan Oey Giok Koen menyumbangkan kepada Kelenteng Boen San Bio sepasang Perahu Naga, yaitu Naga Kuning dan Naga Merah. Tuan Tanah Kedaung juga turut menyumbangkan Perahu Papak Merah kepada Kelenteng Boen San Bio. Peristiwa ini terjadi ketika Kapitan Oey Giok Koen naik delman (kereta kuda) dan pada saat lewat di depan Kelenteng Boen San Bio ‘as’ kereta yang ditumpanginya patah, kemudian Kapitan Oey Giok Koen bersembahyang di Kelenteng Boen San Bio dan berjanji bila ia mempunyai anak laki-laki akan membuatkan sepasang Perahu Naga untuk Kelenteng Boen San Bio.


Kapitan Oey Giok Koen adalah salah satu pendiri Pendidikan Tionghoa Hwe Koan. Sekitar tahun 2008, komplek pemakaman Kapitan Oey Giok Koen bertempat di Priuk – Sangiang Kota Tangerang, dibongkar karena komplek pemakaman Kapitan Oey Giok Koen dijual oleh keturunannya dan sekarang menjadi perumahan Global Mansion, dikomplek ini yang hanya tersisa adalah sebuah kolam besar dan sangat disayangkan sebagian masyarakat Tionghoa Benteng kurang menaruh perhatian terhadap situs bersejarah yang menjadi jejak sejarah kerberadaan masyarakat Tionghoa di Tangerang. Di komplek pemakaman ini dapat diketemukan sejumlah relief maupun ukiran yang telah berusia ratusan tahun.
Kapitan Oey Khe Tay membuat Perahu Papak Hijau pada tahun 1900 dan dua tahun kemudian yaitu tahun 1902, hartawan dan para dermawan dari tiga gang (jalan) di depan Kelenteng Boen Tek Bio, yaitu Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cilangkap) dan Gang Gula (Cirarab) membuat Perahu Papak Merah untuk disumbangkan kepada Kelenteng Boen Tek Bio.

Perayaan Peh cun sendiri di Tangerang diperkirakan mulai dilaksanakan sejak tahun 1910. Hal ini karena di Jakarta, sungai-sungai sudah menjadi dangkal sehingga perayaan Peh cun dipindahkan ke Tangerang. Dengan sungai Cisadanenya yang cukup luas, maka Tangerang memenuhi syarat untuk melaksanakan perayaan Peh cun.

Pada perayaan Peh cun tahun 1911, menurut cerita, pada saat perlombaan Perahu Papak Hijau dan Merah ada ‘getek’ (rakit) yang melintang, malang di tengah sungai, sehingga Perahu Papak Hijau melompat dan persis jatuh diatas getek yang melintang itu. Hal ini mengakibatkan Perahu Papak Hijau patah ditengah (patah pinggang).

Perahu Papak Hijau yang patah itu kemudian disimpan di tempat Bapak Lim Tiang Tiang di Karawaci dan dijadikan satu dengan keramat yang sudah ada. Pada tahun 1912 Perkumpulan Boen Tek Bio membuat Perahu Papak Merah yang baru dibawah pengawasan Bapak Lim Hok Tjiang selaku sekretaris Perkumpulan Boen Tek Bio.

Pada tahun 1938 ada juga Perayaan Peh cun yang dirayakan pada tanggal 7-8 bulan 5 penanggalan Imlek (Go Gwee Ce Cit – Ce Pe). Pada perayaan ini dibuatlah sepasang Perahu Naga oleh Bapak Lim Tiang Hoat di daerah Kedaung Barat. Namun pada tahun 1942 ketika Jepang datang ke Indonesia, Perahu Naga itu dibakar.

Perlu diketahui juga dimulainya Perayaan Peh cun di Tangerang ini dikoordinir oleh Perkumpulan Boen Tek Bio, namun sayang pada tahun 1964 Perayaan ini berakhir. Sekian tahun telah berlalu, kemudian Pemerintah Kota Tangerang mengangkat kembali tradisi Peh cun di Tangerang sejak tahun 2000 yang terus berlanjut hingga sekarang.

Kronologi Empe Peh cun 
Diperkirakan pada tahun 1850 nenek buyut dari Bapak Rudi A.Kuhu mengambil sepotong kayu yang lewat di Sungai Cisadane, pada masa itu orang-orang masih memasak dengan menggunakan kayu bakar. Setelah beberapa hari kemudian, sewaktu potongan itu dijemur, nenek buyut Bapak Rudi A. Kuhu bermimpi bahwa potongan kayu tersebut minta untuk ‘dirawat’, sehingga dibuatkanlah sebuah gubug (rumah dari tiang bambu yang menggunakan atap rumbai) untuk menyimpan potongan kayu tersebut.
Pada tahun 1911, Perahu Papak Hijau yang patah ditengah dalam perlombaan Peh cun diletakkan pula di tempat keramat tersebut yang sekarang ini dikenal dengan sebutan Empe Peh cun.



Peh cun di Kedaung Barat
 Diperkirakan pada tahun 1938 atas usaha dari para penduduk di Kedaung Barat, Kampung Kelor yang dikepalai oleh mendiang Bapak Lim Tiang Hoat, telah membuat dua buah perahu Liong untuk turut merayakan Peh cun di tempatnya sendiri, dimulai dari tanggal 7-8 bulan 5 penanggalan Imlek (Go Gwee Ce Cit-Ce Pe). Meskipun keramaiannya tidak dapat dibandingkan dengan keramaian di Tangerang yang menjadi pusatnya, namun meraka telah menunjukkan bahwa di desa itu pun ada persatuan dan semangat Peh  cun. Namun sayang sekali, usaha itu tidak berjalan lama, karena pecahnya Perang Dunia Ke-II, dimana waktu itu terjadi kerusuhan yang mengakibatkan Sepasang Perahu Liong Peh cun di Kedaung Barat habis terbakar. Hal ini sungguh disayangkan.

Peh cun dilaksanakan 4-5 hari. Selain acara ritual terdapat acara hiburan seperti barongsai, panggung juga sudah disediakan untuk menyanyi dan menari. Orang - orang yang datang pada acara Peh cun dimulai dari anak-anak kecil hingga orang dewasa. Disana juga terdapat stand-stand yang menjual berbagau macam barang dan makanan. Puncak dari acara ini adalah ritual memandikan perahu papak merak peninggalan Kapitan Oey Giok Koeun (1900) dan papak hijau (1911). Ritual memandikan perahu ini merupakan representasi dari rasa penghormatan yang tinggi kepada Qu Yuan atas jasanya membela negara. Prosesi memandikan perahu dilakukan tepat pada pukul 12 malam pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Khongcu Lek. Ritual tahunan yang berlangsung sejak tahun 1900an ini sempat terhenti dalam waktu yang cukup lama dan kemudian dilanjutkan kembali. Perahu papak merah dan hijau dimandikan menggunakan air kembang. Setiap orang yang datang dipersilakan untuk memandikan perahu dengan cara mengusapnya menggunakan kain merah yang sudah disediakan. Selain sebagai tradisi penghormatan kepada leluhur, ritual ini juga dipercaya dapat membawa keberuntungan bagi warga yang turut memandikan perahu tersebut. Memandikan perahu ini dipercaya bisa membuat enteng jodoh, murah rezeki. Termasuk, sebagai wujud akulturasi budaya, bahwa kegiatan etnis Tionghoa ini juga dilakukan di Indonesia.

Ari Intan PS, Larezza DS, Keke Utamy W

Kamis, 27 April 2017

Post-postan tentang Tionghoa



Hai bloggers, hanya ingin memberitahukan saja nih. Bahwa Kue Keranjang kami selain memiliki blog ini , kami juga memiliki akun Instagram yang berisikan semua tentang Tionghoa. Baik itu tentang tradisinya, makanannya atau benda-benda bersejarah lainnya. Jika berminat silahkan lihat-lihat instagram milik kami.^^
Klik link di bawah ini jika ingin melihat :
  https://www.instagram.com/kuekeranjang_ubd/


- Lindawati - 

REVIEV FILM SOE HOEK GIE


Hai bloggers , selamat malam. Pada kesempatan kali ini, kami ingin membahas tentang review film yang berjudul “GIE”. Film ini disutradarai oleh Riri Riza yang mana sekaligus penulis film tersebut dan juga diproduseri oleh Mira Lesmana. Film yang ditayangkan pada tahun 2005 ini menceritakan seorang aktivis mahasiswa muda Indonesia keturunan Tionghoa yang bernama Soe Hok Gie. Film ini sendiri diangkat dari sebuah buku karya beliau yang berjudul “ Catatan Seorang Demonstran”. Sebuah buku yang diterbitkan pertama kali tahun 1983-an yang mana merupakan rekaman hidup nyata diri Soe Hok Gie yang dicatat dalam buku hariannya.
 
Pertama saya akan membahas latar belakang dari Gie, ia adalah anak keempat dari lima saudara. Ayahnya bernama Soe Lie Pit yang mengganti namanya menjadi Salam sutraman dan Ibunya bernama Nio Hoe An. Kakaknya yang paling mendominasi di film ini bernama Soe Hoe Djin yang mengikuti ayahnya untuk mengganti nama menjadi Arief Budiman. Gie lahir di Djakarta pada tanggal 17 Desember 1942 dan wafat tepat sehari sebelum ia genap berumur 27 tahun di puncak Gunung Semeru.
Gie kecil ( Jonathan Muliaa ) bersekolah di Sekolah Dasar Sinhwa saat umurnya kira-kira 5 tahun, dan kemudian melanjutkan pendidikannya di Sekolah Menengah Pertama Strada Gambir. Sedari kecil hobi Gie adalah membaca buku karya-karya sastra bahkan ia pernah membaca buku langka karangan Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “ Cerita dari Blora “. 

Gie dikenal sebagai anak yang tak segan untuk mengeluarkan pendapatnya kepada siapa saja. Hal ini tidak terkecuali kepada gurunya di sekolah. Saat di kelas ia berbeda pendapat dengan gurunya, Gie tetap gigih bahwa ia benar namun hal tersebut malah membuatnya harus menerima nilai ulangannya dikurangi 3 poin. Dari yang awalnya bernilai 8 menjadi bernilai 5, selain itu ia juga dihukum atas perbuatannya melawan perkataan gurunya tersebut.
Gie sangat tidak terima akan hal tersebut karena menurutnya itu sangat tidak adil terlebih lagi ia menemukan bukti bahwa gurunya tersebut membantu keponakannya untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Gie merasakan hal itu tidaklah benar , ia pun melakukan protes kepada Kepala Sekolahnya tersebut namun hal itu malah membuatnya harus mengulang kelas kembali. Setelah menerima kabar bahwa ia diharuskan mengulang kelas, ia semakin merasa bahwa ia harus mengadakan koreksi habis-habisan kepada guru yang tidak tahan kritik. Karena menurutnya guru bukanlah dewa dan selalu benar dan murid bukan kerbau. Ia bersama temannya yang bernama Han ( Christian Audy ) seusai pulang sekolah pun mengikuti guru tersebut untuk melakukan aksi protesnya namun setelah sampai di dekar rumah gurunya tersebut. Dan melihat kejadian dimana kondisi rumah gurunya sangatlah tidak layak untuk ukuran seorang yang berprofesi guru terlebih anak-anak nya masih sangat kecil. Hati Gie tergerak saat melihat apa yang ia saksikan, hal tersebut membuatnya membatalkan aksi protes itu. Karena bagi Gie tidaklah pantas menindas warga kecil yang tidak berkehidupan yang layak. 

Hasil gambar untuk film gie
Sejak saat itu Gie memutuskan untuk pindah sekolah dan ia semakin rajin belajar dan membaca buku, bahkan ia semakin sering berkunjung ke perpustakaan umum.
Masuk kepada Masa peralihan ( Gie kecil yang sudah menjadi dewasa )
Setelah Gie lulus dari masa SMA di Kollese Kanisius, ia melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia dari tahun 1962 – 1969. Ia adalah mahasiswa Fakultas Sastra Jurusan Sejarah. Selama kurun waktu sebagai mahasiswa Gie menjadi mahasiswa aktif di kampusnya yang memprotes Presiden Soekarno dan PKI. Masa remaja dan kuliah Gie di jalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang di tandai dengan konflik antara militer dengan PKI.
Era tahun 1963-an
Pada suatu hari Gie bersama dengan teman-teman kampusnya yang lain tengah membahas tentang harga-harga yang semakin membumbung naik & membuat kaum kapitalis semakin lahap memakan rakyat. Gie mengajak teman-temannya untuk bertindak sesuatu karena ia beranggapan bahwa seorang sarjana bertugas untuk berfikir & mencipta yang baru dan membebaskan masyarakat dari kekacauan, tetapi tidak melepaskan fungsi sosialnya yakni bertindak demi tanggung jawab sosial.
Masih di tahun 1963, saat diskusi dengan Eksponen Partai Sosial Indonesia yang di larang Gie di temui oleh Pak Ben. Ia adalah seorang dimsos anggota dari aktivis gerakan yang di pimpin tokoh mantan pejabat Sumitro namanya. Karena semangat memberontakanya ia kini mengasingkan diri ke luar negeri. Pak Ben meminta Gie untuk masuk dalam kampanyenya yang berbentuk underground publication/underground catalog publication yang kegiatannya mengumpulkan gagasan intelek-intelek muda untuk di jadikan sebuah kumpulan tulisan berkala. Tujuannya adalah pembentukan opini tentang pembentukan bangsa ini dan gerakan ini merupakan gerakan murni tidak memihak organisasi manapun. Namun pada saat itu Gie belum memutuskan apakah akan menolak atau menerima tawaran tersebut.
Kemudian pada suatu hari Gie pernah diminta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno sebagai anggota pemuda delegasi-delegasi yang setuju dengan asimilasi dan meminta restu dari beliau. Sebenarnya pada saat itu Gie tidak menyukai Soekarno karena masa pemerintahannya banyak ketidakadilan & kotor. Namun Gie tetap menghadiri acara tersebut & menemui Soekarno.
Era tahun 1964-an
Pada suatu hari Gie bertemu dengan Han yaitu teman masa kecil Gie. Mereka banyak mengobrol dan membicarakan revolusi tentang situasi tegang antara militer & PKI yang saat itu Soekarno cukup dekat dengan PKI dan pada saat itu ternyata di ketahui bahwa Han telah bergabung dengan PKI. Han pun menyarankan Gie masuk salah satu organisasi namun Gie menolak karena ia tidak ingin masuk organisasi manapun dan memilih bersikap netral. Gie pun menyarankan Han untuk keluar dari organisasi manapun & bersikap netral namun Han pun menolaknya.  
 
Pada tahun yang sama juga Gie kembali menemui Pak Ben dan Gie memutuskan untuk bergabung dan menyerahkan beberapa lembar gagasannya dan dari sinilah Gie mulai banyak menulis gagasannya.
Era tahun 1965-an
Suatu hari Gie menyarankan Herman untuk mencalonkan diri di senat yang akhirnya mereka terpilih. Dan mereka mengisi kegiatan senat dengan kegiatan MAPALA ( Mahasiswa Pecinta Alam).  
Setelah lama berjaya dalam senat dan beberapa lama berjalan terjadi kesalahpahaman yang terjadi diantara mahasiswa tentang MAPALA. Yang pada akhirnya MAPALA dituntut dibubarkan. Setelah MAPALA dibubarkan, temannya Gie yang bernama Herman bernanya: Kenapa Gie harus ngelakuin perlawanan ini?  yang dijawab oleh Gie dengan “ Kita punya pemimpin, kita punya bapak yang kita akui sebagai founding father di negeri ini. Tapi bukan berarti dia punya kekuatan absolut untuk menetukan hidup kita.  Apalagi kita sadar bahwa ada keselewengan, ketidak adilan. Sederhananya, ingin ada perubahan supaya Indonesia lebih baik.  Satu -satunya cara adalah Sukarno harus jatuh.
Pada 1 oktober 1965
Ahmad Yani diculik ( kejadian ini dikenal dengan tragedi G30SPKI). Setelah mendengar kabar bahwa Ahmad Yani diculik,  Gie langsung pergi ketempat Sunarto. Yang kemudian Sunarto mengajak Gie untuk bertemu dengan Wijono. Akibat penculikan ini banyak orang - orang  berpikir kalo ini perbuatan PKI.  Kemudian pada saat itu juga, di dalam ABRI ada tingkatan level / dua blok.  Yang pertama anti komunis,  yang kedua pengaruh unsur komunis. Yang mana Sukarno lebih condong pada pilihan yang ke 2. Karena menurut Sukarno PKI lebih mengimbangi daripada ABRI.
 Malam harinya Gie mendatangi rumah Han.  Dia menyuruh Han untuk menyembunyikan atau membakar hal - hal yang berbau PKI, hal tersebt Gie lakukan karena ia melihat bendera & berkas - berkas PKI.  Gie menyuruh Han untuk pergi dari rumahnya tapi Han menolak karena ia memiliki tantenya yang sakit dan sudah tua yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja.
Januari 1966
Dalam usaha untuk menjatuhkan pengaruh kelompok anti komunis, pemerintah Sukarno membuat politik kenaikan harga, sasarannya jelas membuat rakyat untuk tidak lagi berpikir tentang penumpasan PKI. Terus organisasi - organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa  Indonesia (KAMI), organisasi itu turun ke jalanan dengan tuntutan salah satunya untuk membubarkan PKI.  Lalu mahasiswa UI melakukan demo di depan gedung menteri minyak dan gas bumi dan beberapa perwakilan mahasiswa masuk ke ruang menteri dan akhirnya menandatangani perjanjian, kemudian menteri tersebut dibawa keluar gedung untuk menemui mahasiswa lainnya.  
Hasil gambar untuk film gie
Setelah itu semua berjalan dengan lancar. Dan beberapa tahun setelahnya, Gie akhirnya lulus kuliah kemudian menjadi dosen di almamaternya.
Pada suatu malam Gie bermimpi tentang Han dan membuatnya berencana mengunjungi kembali rumah Han yang ternyata sudah kosong setelah terjadi razia PKI. Setelah itu, Gie mengunjungi tante Han yang berada di sebuah panti jompo. Ia mendapatkan informasi bahwa Han terkena razia PKI dan membuat Han ditangkap kemudian dipenjarakan.
Di akhir tahun 1965 sekitar 80.000 jiwa dibunuh di Bali. Terjadi pembakaran – pembakaran rumah, juga pemerkosaan.  Disekitar tahun 1969, Gie diikuti orang di jalanan kemudian kantor radio UI dihancurkan, pada malam harinya saat turun dari angkutan umum, Gie hampir diserempet mobil dan dilempari kertas yang bertuliskan TJINA & PKI = MATI. Hal tersebut dikarenakan kritikan keras yang dilakukan oleh Gie baik dalam radio maupun surat harian. Hal ini terjadi  karena  Gie terlalu berambisi dalam mengkritik pemerintahan di Indonesia melalui surat-surat kabar dan radio.
Pada hari jum'at, 12 Desember 1969. Gie dan teman-teman sudah berkumpul di Statsiun Kereta Api Gambir. Mereka bermaksud mendaki puncak Mahameru, kali ini adalah pendakian pertama bagi Mapala mendaki puncak tertinggi di pulau Jawa itu. Pagi itu, 16 Desember 1969, langit masih setengah gelap, rombongan siap berangkat. Dalam perjalanan, cuaca buruk yang penuh hujan dan gerimis bercampur kabut. Hok Gie lalu bergegas turun, mungkin berbarengan dengan Tides. Sambil berteriak dan turun, Tides menyuruh untuk segera turun karena cuaca tidak bagus. Bau uap sangata menyengat membikin sesak kantong udara di paru-paru. Entah berapa puluh menit berlalu, cuaca belum betul-betul gelap. Lamat-lamat terdengar suara geruduk guliran batu pasir. Terlihat Fredy dan Herman meluncur turun, tanpa Hok Gie dan Idhan.
Herman datang duluan. Sambil mengempaskan diri ke tenda darurat, dia langsung melapor ke Tides. "Hok Gie dan Idhan meninggal, mereka tiba-tiba kejang dan tidak bergerak." Kata Herman dalam keadaan panik. Gie mendaki Gunung Semeru dan tepat pada tanggal 16 desember 1969 sehari sebelum genap berumur 27 tahun, dan Gie meninggal dunia yang disebabkan oleh gas beracun.

24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Pada Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango. 



Kemudian di puncak Gunung Mahameru terdapat sebuah plakat baja untuk mengenang pecinta alam yang sudah berjasa semasanya. Di plakat lempengan baja tersebut tertulis IN MEMORIAM SOE HOK GIE & IDHAN LUBIS, lengkap dengan sebuah puisi. Berikut puisi yang tertulis dalam plakat tersebut:
Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan dan kebebasan
Yang mencintai bumi
Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah dan berkata,
ke sanalah Soe Hok Gie dan Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang
Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara sapu tangan menahan tangis
Sementara Desember menabur gerimis
Plakat lempengan baja ini pertama kali dibuat tahun 1970 oleh Herman Lantang, kemudian diubah tahun 1989, lalu tahun 2002 di ubah oleh Indonesia Green Ranger. Plakat tersebut seolah menjadi magnet yang mengundang para pendaki dan pecinta alam dari berbagai daerah, bersemangat untuk menapakkan kaki di puncak Mahameru.  Plakat tersebut diturunkan pada 16 Desember 2012. Setelah diturunkan dari ketinggian 3.676 mdpl, plakat tersebut dikabarkan disimpan oleh pegiat alam bebas Indonesia Green Ranger yang didirikan oleh Idhat Lubis yang tak lain adalah kakak almarhum Idhan Lubis.
Pelajaran yang dapat kita petik dari film yang merupakan kejadian nyata ini adalah bahwa seberapa keras ketidak adilan yang kita alami, kita dapat menuntut itu walau kita hanya berjuang sendirian tanpa ada yang membela. Seperti yang terjadi di dalam film, menampilkan banyak orang-orang mendukung Gie dalam menyuarakan suara rakyat Indonesia yang tidak terdengar namun setelah itu mereka tidak lagi mendukungnya yang disebabkan kekuasaan lah yang lebih tinggi dibandingkan dengan keadilan yang ada di negeri ini. Ia harus dijauhin oleh teman-teman yang sebelumnya mendukung terang-terangan untuk menjatuhkan pemerintahan yang otoriter ini sampai mengalami kesendirian yang sejati hingga akhir hidupnya. Cita-cita Gie tentang Pemerintahan Indonesia yang bersih dari korupsi dan kehidupan politik yang tidak berpihak pada golongan, ras atau agama sampai saat inipun belum terwujud. Dan ini adalah tugas kita sebagai warga negara Indonesia untuk melanjutkan cita-cita yang telah lama Gie harapkan demi negara kita tercinta ini.
Gambar terkait
Sekian review yang dapat kami berikan, mohon maaf jika ada kesalahan dalam pemahaman atau kata-kata yang kami lakukan. Semoga ada manfaat yang kalian dapatkan dari blog kami. Selamat malam, teman-teman.






 - Lindawati -